![]() |
| Cek Molek dan anaknya Nyayu Hamidah usai menerima Plakat dan Kursi Roda, (foto/ara) |
PALEMBANG, SP - Kota Palembang penuh dengan kedamaian adalah hal yang patut disyukuri. Hal ini adalah perjuangan para pejuang untuk kemerdekaan Indonesia termasuk mempertahankan Bumi Sriwijaya pada Perang Lima Hari Lima Malam.
Nyayu Khodijah atau Cek Molek, perempuan berusia 90 tahun ini adalah saksi perjuangan pada perang tahun 1947 itu. Ibu dari 20 anak asli Palembang ini menjadi satu-satunya perempuan saksi hidup bagaimana para tentara mempertahankan kota ini dari kolonial Belanda.
Cek Molek panggilan akrabnya. Perempuan yang kini menjadi anggota dari Veteran ini menjalani kesehariannya di rumah peninggalan orang tuanya di 19 Ilir. Rumah itu kini dinamai rumah Paleng Merah Indonesia (PMI).
"Saya menjadi PMI sejak 1945 sampai 1947 saat perang itu dimulai," katanya pemberian penghargaan kepada para Veteran di Benteng Kuto Besak (BKB), Minggu (10/11/2019).
Cek Molek menjadi petugas PMI pada masa perang itu. Membantu menyelamatkan para korban dalam perjuangan itu. Pada saat itu, ia telah menikah dua tahun sebelumnya dan saat perang ia berusia 17 tahun. Tidak mudah, menjadi dirinya. Memiliki dua buah hati yang masih kecil, tetapi demi Palembang, Indonesia ia berjuang membantu para korban.
"Banyak korban terluka bahkan meninggal dunia," kenangnya.
Sebagai ibu muda yang terlibat dalam peperangan, Cek Molek mensyukuri dirinya tidak terluka pada perang itu. Hanya saja, ia harus sering meninggalkan anak-anaknya demi tugasnya sebagai PMI. "Banyak yang melarang saya, menyuruh saya untuk tidak ikut, saudara mengkhawatirkan kalau-kalau anak-anak menangis," kenangnya lagi.
Pada masa perang yang berlangsung lima hari itu, rumah Cek Molek juga menjadi dapur umum. Kala itu, ayahnya adalah Kepala Kampung atau Lurah. "Ayah itu kepala kampung sini, rumah kami adalah saksi, masih ada bekas peluru di dapur, kena tembak pada waktu itu," ujarnya.
Cek Molek menjadi satu-satunya perempuan saksi mata Perang Lima Hari Lima Malam yang masih hidup. "Ada 10 teman saya, tapi sudah meninggal, tinggal saya sendiri, ada yang meninggal di usia 70 tahun," katanya.
Tidak mudah di masa itu. Maka rasa terimakasih terhadap para pejuang yang telah memperjuangkan kemerdekaan harus selalu dilakukan. Pemerintah setempat harus lebih memberikan banyak perhatian lagi bagi para Veteran ini. Setidaknya itu adalah harapan Cek Molek juga Nyayu Hamidah (61), anaknya yang ke-7.
"Kami berharap pemerintah memberikan perhatian lebih banyak, karena mereka adalah pejuang,"kata Nyayu Hamida.
Nyayu Hamidah mengatakan, pemerintah kurang memberikan perhatiannya bahkan jauh dari kata menyejahterakan. Hanya pernah mendapatkan umroh pada 2011 di masa pemerintahan Gubernur Sumsel sebelumnya. "Pernah diumrohkan 2011, kemudian baru dapat lagi penghargaan Plakat dan Kursi Roda kali ini lagi," katanya.
Menurutnya, Cek Molek kini tinggal bersamanya di rumah warisan di 19 Ilir tersebut. Nyayu Hamidah mendampinginya di rumah yang diwariskan kepada beberapa saudaranya itu. "Ibu ini tidak punya rumah sendiri, sejak dulu diharapkan ada bantuan rumah," katanya.
Cek Molek memiliki 20 anakdiantaranya 10 laki-laki dan 10 perempuan. Saat ini sudah memiliki cucu 150 orang, buyut 75 orang dan cicit 5 orang. Cek Molek mendapatkan uang pensiunan Veteran Rp2 juta. "Kadang-kadang Ibu ini ingatannya mundur, sering ngajak ngobrol kenangan masa lalu, ingin masak untuk abah (ayah) kami yang sudah meninggal," katanya. (Ara)
