Notification

×

Tag Terpopuler

106 Pekebun Muara Enim ikuti Pelatihan, Dorong Produktivitas Sawit Rakyat Meningkat

Friday, June 19, 2026 | Friday, June 19, 2026 WIB Last Updated 2026-06-19T03:37:11Z


PALEMBANG,SP – IPB Training menggelar Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit bagi ratusan pekebun asal Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Kegiatan ini merupakan program BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan) dan Direktorat Jenderal Perkebunan yang menggandeng IPB Training sebagai lembaga penyelenggara pelatihan.


Kegiatan yang berlangsung pada 18-23 Juni 2026 itu bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) perkebunan sekaligus mendorong peningkatan produktivitas sawit rakyat.


Direktur IPB Training, Muhammad Sigit Susanto, mengatakan salah satu tantangan utama yang dihadapi pekebun mandiri saat ini adalah pemilihan bibit unggul serta penerapan teknik budidaya yang tepat. Menurutnya, kedua faktor tersebut sangat menentukan tingkat produktivitas kebun kelapa sawit.


“Pengelolaan budidaya sawit yang baik dimulai dari pemilihan bibit. Jika menggunakan bibit unggul, maka akan menjadi cikal bakal produktivitas yang tinggi,” ujar Sigit.


Pelatihan Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 Angkatan I, II, dan III tersebut diikuti 106 pekebun asal Kabupaten Muara Enim. Para peserta mendapatkan materi terkait regulasi dan kebijakan budidaya kelapa sawit, persiapan benih dan bahan tanam, pengolahan lahan, teknik penanaman, pemeliharaan tanaman, pengendalian gulma, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman.


Sigit menjelaskan, masih banyak pekebun yang terkendala dalam memperoleh bibit unggul karena harga bibit bersertifikat relatif mahal. Kondisi tersebut membuat sebagian petani memilih bibit dari sumber yang tidak direkomendasikan.


“Jika memilih bibit secara sembarangan, maka setelah empat hingga lima tahun produksi kelapa sawit pasti rendah. Ini menjadi persoalan yang tidak hanya terjadi di Sumatera Selatan, tetapi juga di berbagai daerah lain,” katanya.


Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Muara Enim, Isdrin, menyebut luas perkebunan sawit rakyat yang terdata di wilayahnya mencapai sekitar 14.500 hektare. Namun, setiap tahun masih terjadi penambahan kebun mandiri sekitar 600 hektare yang belum seluruhnya masuk dalam pendataan resmi.


Ia berharap para peserta pelatihan dapat menjadi agen penyebar informasi bagi pekebun lain di desa masing-masing.


“Kami berharap 106 petani yang mengikuti pelatihan ini dapat membagikan ilmu dan pengalaman yang diperoleh kepada pekebun lain sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” ujarnya.


Menurut Isdrin, produktivitas kebun sawit rakyat di Muara Enim saat ini masih relatif rendah. Produksi rata-rata hanya mencapai 3 hingga 5 ton CPO per hektare, padahal dengan penggunaan bibit unggul dan penerapan teknik budidaya yang benar, produksi berpotensi meningkat menjadi 8 hingga 9 ton CPO per hektare.


Dari sisi produksi tandan buah segar (TBS), kebun rakyat saat ini rata-rata menghasilkan sekitar 15 ton per hektare per tahun. Angka tersebut dapat meningkat hingga 20-25 ton per hektare per tahun apabila didukung bibit unggul, pemupukan yang tepat, dan perawatan optimal.


“Artinya ada potensi peningkatan produktivitas hingga sekitar 50 persen. Karena itu pelatihan ini sangat penting untuk meningkatkan hasil panen pekebun secara signifikan,” jelasnya.


Pada kesempatan yang sama, Katim Kerja Pemberdayaan dan Peningkatan Kapasitas Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Kementerian Pertanian, Tulus Tri Margono, menegaskan bahwa perkebunan rakyat memiliki peran strategis dalam industri sawit nasional.


Ia menyebut lebih dari 42 persen luas perkebunan kelapa sawit Indonesia dikelola oleh pekebun rakyat, sehingga peningkatan kapasitas petani menjadi salah satu kunci menjaga produktivitas sektor sawit nasional.


Tulus mengungkapkan sejumlah persoalan yang masih banyak ditemui di tingkat pekebun rakyat, mulai dari penggunaan benih ilegal, sanitasi kebun yang kurang baik, pemupukan tidak seimbang, hingga rendahnya minat melakukan peremajaan tanaman.


“Penggunaan benih ilegal menyebabkan produktivitas rendah. Tanaman yang seharusnya masih produktif hingga 25 tahun, dalam beberapa kasus sudah mengalami penurunan produksi saat berusia sekitar 10 tahun,” katanya.


Melalui program pelatihan ini, pemerintah berharap tidak hanya meningkatkan kemampuan pekebun, tetapi juga memperkuat kapasitas karyawan perkebunan dan penyuluh lapangan agar mampu mendampingi petani secara berkelanjutan.


“Kami berharap seluruh peserta dapat menerapkan ilmu yang diperoleh dan menyebarkannya kepada SDM perkebunan lainnya sehingga produktivitas sawit rakyat terus meningkat,” kata Tulus. (Ara)

×
Berita Terbaru Update