PALEMBANG,SP – Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang memperketat pengawasan terhadap potensi kebakaran lahan yang terjadi berulang.
Pemkot juga menyiapkan langkah tegas melalui penegakan hukum (Gakkum) apabila ditemukan unsur kesengajaan dalam pembakaran lahan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Palembang Ahmad Furqon mengatakan, hasil identifikasi di lapangan menemukan sejumlah pola pembakaran yang mencurigakan.
“Memang banyak metode pembakaran. Pernah ada kejadian kita dapati lahan terbakar pukul 20.00 WIB di lahan kosong. Ini menjadi asumsi dibakar saat tidak ada aktivitas masyarakat,” kata Furqon, kata Ratu Dewa usai rapat koordinasi penanganan Karhutla bersama Wali Kota Palembang, Senin (24/8/2026).
Ia menegaskan, setiap terjadi kebakaran lahan, BPBD bersama tim pemadam kebakaran langsung melakukan pemadaman agar api tidak meluas.
Namun, pihaknya juga menemukan sejumlah lokasi yang kembali terbakar dalam waktu singkat. Bahkan, ada lokasi yang terbakar kembali hanya dalam rentang dua hingga tiga hari setelah kejadian sebelumnya.
“Setiap ada kebakaran di Palembang bersama tim Damkar kita langsung padamkan. Ada kegiatan pembakaran yang berulang di tempat tertentu, dalam dua atau tiga hari terbakar lagi di lokasi yang sama. Ini yang menjadi penekanan dari wali kota,” ujarnya.
Furqon menyebut hingga kini belum ditemukan pelaku yang dapat dipastikan sebagai pembakar lahan. Kendati demikian, BPBD bersama tim terkait terus melakukan pemantauan untuk mengungkap apabila terdapat unsur kesengajaan.
“Sejauh ini belum ditemukan pelaku pembakar. Tetapi sesuai atensi wali kota, kita mencari jika ada unsur kesengajaan untuk ditindak dengan tegas. Imbauan juga dari Kapolda, kita sudah bentuk tim,” katanya.
Sejumlah titik yang tercatat mengalami kebakaran lahan berulang tersebar di beberapa kecamatan. Di antaranya Kelurahan Keramasan, Kecamatan Kertapati, di Jalan Mayor Jenderal Satibi Darwis yang tercatat tiga kali terbakar.
Di Kecamatan Gandus, kebakaran berulang terjadi di Jalan Soak Batok, Kelurahan Karya Jaya, sebanyak dua kali, serta Jalan Milik sebanyak empat kali. Sementara di Kelurahan Gandus, Jalan Talang Kepuh tercatat mengalami kebakaran berulang hingga enam kali.
Untuk Kecamatan Ilir Barat I, Kelurahan Bukit Baru menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian. Kebakaran berulang tercatat di Jalan Tanjung Barangan sebanyak delapan kali, Jalan Tanjung Rawo dua kali, dan Jalan Tanjung Aur Mebeu sebanyak tiga kali.
Sementara di Kecamatan Alang-Alang Lebar, Kelurahan Karya Baru, Jalan Kolonel Sulaiman Amin tercatat mengalami dua kali kejadian kebakaran berulang.
Titik lainnya berada di Kelurahan Jakabaring, Kecamatan Jakabaring, tepatnya di Jalan Gubernur H. A. Bastari sebanyak tiga kali, serta Kelurahan Sri Mulya, Kecamatan Sematang Borang, di Jalan Serang sebanyak tiga kali.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan, pengawasan harus diperkuat, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kejadian kebakaran lahan cukup tinggi.
“Gakkum sudah diminta dioptimalkan dan ada pengetatan. Saya minta Satpol PP, Kominfo, dan di tempat-tempat tertentu, khususnya kebakaran lahan, camat benar-benar memonitor potensi kebakaran lahan yang berulang,” katanya.
Menurutnya, setiap kejadian kebakaran lahan harus didukung bukti yang cukup, seperti dokumentasi foto maupun video. Bukti tersebut nantinya dapat menjadi dasar bagi Satpol PP untuk mengambil tindakan dan meneruskannya kepada pihak penegak hukum.
“Sehingga ada bukti video, foto, sehingga Satpol PP bisa bertindak dan bisa dibawa ke Gakkum. Jangan sampai tidak ada bukti tetapi kemudian menyalahkan masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan data hingga Agustus 2026 Pemkot Palembang, dari 159 kejadian kebakaran lahan, Kecamatan Alang-Alang Lebar menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 31 kejadian. Selanjutnya Gandus 24 kejadian, Ilir Barat I sebanyak 20 kejadian, Kertapati 18 kejadian, dan Sukarami 17 kejadian.
"Untuk sepanjang Agustus sebanyak 92 kejadian kebakaran lahan," ujarnya
Ratu Dewa menyebut, tingginya kejadian di sejumlah wilayah tersebut menunjukkan adanya potensi kebakaran yang berulang. Bahkan, terdapat dugaan faktor manusia dalam sejumlah kejadian kebakaran lahan. (Ara)
