![]() |
MUBA, SP - Harga komoditi getah karet semakin tak menentu, kondisi ini membuat kian terpuruknya perekonomian petani karet khususnya di Kecamatan Sungai Lilin Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Hal ini mulai terjadi sejak tahun 2018 hingga saat ini.
Kondisi tersebut kian diperparah sejak beberapa bulan terakhir, saat musim kemarau melanda khususnya warga kabupaten Musi Banyuasin. Selain harga anjlok, getah karet pun jauh berkurang akibat daun kekeringan (track) di musim kemarau.
Seperti yang dikeluhkan, Khoirudin (32) warga RT 10 RW 10 Desa Panca Tunggal Kecamatan Sungai Lilin kabupaten Musi Banyuasin (Muba) Kondisi harga karet yang kian tak menentu. “Bukannya naik, malahan sering turun," keluhnya.
Dikatakannya, selain harga karet sangat tidak berimbang dengan harga sembako dipasaran, saat ini juga petani mengeluh karena sedang mengalami musim kemarau. “Mana saat ini sedang kemarau, jangankan getah, airpun kami kesulitan," imbuhnya.
Bukan hanya itu, Khoirudin juga mengaku, dua bulan terakhir ini harga jual Tandan Buah Sawit (TBS) yang dibeli para tengkulak hanya Rp 850 per kg-nya.
"Kondisi mengakibatkan ekonomi petani seperti kami menjadi sulit, Rata rata 500 kg per dua minggu hasilnya dan kita hanya mendapatkan 425.00 untuk per dua hektar, itu belum termasuk upah panen yang harus dikeluarkan Rp. 100.000 hingga Rp 150.000," beber Khoirudin.
Senada dikatakan Anto warga dusun 1 RT 3 desa Mulyo Rejo, menurutnya para petani karet juga mengalami hal yang sama, harga getah karet petani dalam dua bulan terakhir ini, rata rata di bawah Rp 6.300 per kgnya.
"Minggu kemarin, harga karet petani hanya Rp7.800 per kgnya.Sementara penghasilan yang kita harus bagi 50 persen dengan yang menyadap (pemotong). Bahkan bila kebunnya jauh dari kampung, dua bagian untuk pemilik dan tiga bagian untuk penyadap. Tetapi harus bagaimana lagi, itulah kondisi saat ini," ucapnya.
"Jelasnya sebagai petani, kita merasa sangat sulit sekali. Berharap ke Pemkab Musi Banyuasin (Muba) bisa carikan solusi, agar ekonomi masyarakat bisa membaik kedepannya," harap Anto. (ch@/har)
