Dampak Wabah Corona, Petani Karet Menjerit

Tampak Kebun Karet Sudah Tidak Sadap Lagi Oleh Pemiliknya, Menyusul Merosotnya Harga, (foto/ch@)
MUBA, SP - Wabah Virus Corona (Covid-19) tidak saja berdampak terhadap kesehatan manusia, tapi juga berdampak luas terhadap sektor perekonomian, salah satunya komoditi karet. Dimana saat ini harganya merosot tajam. 

"Harga getah di desa kami untuk 10 hari hanya dihargai pengepul Rp 4.500-Rp. 5.000 per kg (diambil di kebun). Untuk pengepul yang membeli dipinggir jalan berkisar Rp 5.000 hingga Rp 5.300 perkilogramnya,” ujar Den (39) petani karet asal Desa Gajah Mati Kecamatan Babat Supat Kabupaten Muba.

Mirisnya lagi kata dia, saat ini hasil sadapan mengalami penurunan drastis, akibat cuaca tidak menentu.

Disamping itu, sejumlah pengepul yang biasa masuk ke kebun, saat ini banyak yang istirahat dengan alasan kesulitan menjual karet ke pabrik.

Berbeda halnya dengan petani karet di Kecamatan Lais, sejak harga merosot mereka banyak yang memilih untuk istirahat menyadap.

“Untuk sementara kami istirahat menyadap. Apalagi hasil dibagi dua dengan pemilik kebun, dapat dibayangkan berapa hasil yang kami terima jika dalam seminggu cuma dapat 100 hingga 200 kilogram dengan harga Rp 3ribu hingga 4 ribu perkilogran," ujarMamat warga Kecamatan Lais.

Mamad juga mengaku khawatir dengan situasi dan kondisi saat ini. “Masyarakat juga diimbau untuk mengurangi aktifitas diluar rumah untuk mengantisipasi dampak Corona, tentu saja kami cemas jika ini berlangsung lama, sedangkan kebutuhan rumah tangga harus tetap dipenuhi,” katanya. (ch@)

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.