Hindari Kepunahan, Lestarikan Tembakau Perangai

Camat Merapi Selatan, Heri Yulianto melihat proses penjemuran tembakau Perangai. 

LAHAT, SP -
Persaingan ketat penjualan tembakau yang berasal dari Pulau Jawa, rupanya berdampak pada nasib petani tembakau di Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Merapi Selatan, Kabupaten Lahat. Jika dahulu masyarakat sekitar mayoritas berprofesi sebagai petani tembakau, saat ini jumlahnya kian berkurang. Tembakau Perangai yang dahulu dikenal, kini terancam punah.

Camat Merapi Selatan, Heri Yulianto membenarkan, saat ini jumlah petani tembakau tinggal segelintir, hanya ada di Desa Tanjung Beringin. Kesulitannya bukan hanya masalah penjualan, juga karena masa panen tembakau yang hanya 1 kali per tahun. Ditambah tembakau hanya bisa hidup didataran tinggi, di atas bukit. 

“Tembakau ini tanaman musiman, hanya bisa saat musim panas,” kata Heri Yulianto, kemarin dilansir dari detiksumsel.com.

Sebagai salah satu warisan budaya, Heri masih rutin memantau petani tembakau, dan menampung keluhan serta mencari solusi agar tembakau perangai tetap dilestarikan.

Sementara, Andi Sucitra, anggota DPRD Lahat Dapil Merapi Area menuturkan, dahulu masyarakat Merapi Selatan mayoritas berprofesi sebagai petani tembakau, cengkeh, pala, dan kayu manis. Namun karena kerasnya persaingan tembakau, masyarakat mulai beralih profesi.

“Tembakau Perangai ini namanya sudah dikenal masyarakat Sumatera, karena disebut tembakau berkualitas baik,” tutur Andi. 

Andi berharap, kedepan Dinas Pertanian dan Dinas Pariwisata Kabupaten Lahat, bisa kembali menaikkan nama tembakau perangai. Karana tembakau perangai ini bisa disebut masuk kategori warisan budaya masyarakat.

“Berharap nama tembakau perangai meroket lagi. Bila perlu jadi sovenir, jadi oleh-oleh wajib khas Lahat bagi wisatawan,” ucap politisi PAN ini. (ian)


Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.