Ribuan Anak Kota Palembang Alami Stunting


PALEMBANG, SP -
Kasus stunting di Kota Palembang masih tergolong tinggi meskipun pemerintah mengklaim menurun dibandingkan sebelumnya. Tercatat ribuan anak mengalami ini akibat kurang asupan gizi dan menyebabkan tubuh tidak berkembang dengan baik.

 
Walikota Palembang Harnojoyo mengatakan, berdasarkan standar WHO stunting 2018 secara nasional 30,8 persen, Sumsel 31,7 persen. ngka stunting di Kota Palembang sejak tahun 2018 terus mengalami penurunan. Di tahun 2018 angka stunting yakni 22,91 persen, 2019 turun 7,05 persen atau menjadi 15,86 persen.
 
Dari total 121.804 anak ada 80,4 persennya telah dilakukan periksaan diantaranya tercatat 1.661 anak mengalami stunting. "Angka stunting tahun ini 7,5 persen dari total jumlah anak," katanya, usai melakukan paparan penilaian stunting di Kota Palembang oleh pemerintah pusat dan provinsi, Rabu (16/6/2021).

Stunting adalah masalah kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. 

"Balita menderita stunting ini biasanaya ditandai dengan fisik berbadan pendek, bahkan hingga dewasa, tubuh kecil dan pendek tidak sesuai dengan usianya," katanya.

Stunting terjadi akibat balita kekurangan asupan gizi seperti protein hewani dan nabati serta zat besi. Untuk mengatasinya, bersama instansi terkait telah memetakan 10 kecamatan untuk fokus penanganan stunting. 

"Masalah asupan gizi ini harus tercukup sejak 1000 hari masa kehidupan atau saat masih dalam kandungan. Bahkan, dari sebelum hamil  harus dipersiapkan. Karena itu calon ibu dapat dipersiapkan sejak remaja putri, harus menjaga kesehatannya, jangan sampai kekurangan gizi. Jika ekonomi tidak baik, sulit untuk mengonsumsi makanan yang bergizi," katanya.

Stunting dapat mempengaruhi produktivitas generasi masa depan. Bahkan dalam jangka panjang penderita rentan terhadap serangan penyakit. Selain bermasalah gizi, yang menyebabkan anak pendek dari ukuran normal, juga dipengaruhi buruknya fasilitas sanitasi.

"Minimnya akses air bersih, dan kurangnya kebersihan lingkungan seperti belum dilengkapi dengan jamban keluarga. Yang terpenting juga, lingkungan keluarga ikut mendukung pola hidup sehat," katanya. (Ara)

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.