Notification

×

Tag Terpopuler

Empat Lawang Perkuat SDM Pekebun Sawit, Targetkan Produktivitas Terus Meningkat

Tuesday, June 30, 2026 | Tuesday, June 30, 2026 WIB Last Updated 2026-06-30T07:59:46Z


PALEMBANG,SP – Pemerintah Kabupaten Empat Lawang semakin serius mengembangkan sektor perkebunan kelapa sawit dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) para pekebun.


Sebanyak 85 petani sawit mengikuti Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 Angkatan VII, VIII, dan IX yang berlangsung di Sumatera Selatan pada 29 Juni hingga 4 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan program BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan) dan Direktorat Jenderal Perkebunan yang menggandeng IPB Training sebagai lembaga penyelenggara pelatihan.


Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Empat Lawang, Hendra Lezi, mengatakan pelatihan tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan produktivitas kebun sawit yang hingga kini masih berada di bawah beberapa daerah lain di Sumatera Selatan.


Menurut Hendra, perkembangan perkebunan sawit di Empat Lawang sebenarnya cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Saat ia mulai menjabat pada 2022, luas kebun sawit baru sekitar 1.000 hektare. Kini luasnya telah mencapai sekitar 7.000 hektare.


Peningkatan luas lahan tersebut turut mendongkrak produksi. Pada 2024, produksi sawit tercatat sekitar 6.100 ton dan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 12.120 ton pada 2025.


"Pertumbuhan sawit di Empat Lawang sangat baik. Tantangan kami sekarang adalah bagaimana meningkatkan produktivitas per hektare agar mampu bersaing dengan daerah lain," kata Hendra.


Ia menjelaskan, selama ini masyarakat Empat Lawang lebih banyak bergantung pada komoditas kopi dan karet. Namun, fluktuasi harga kedua komoditas tersebut membuat sebagian petani mulai memilih kelapa sawit sebagai alternatif karena dinilai memberikan pendapatan yang lebih stabil dengan masa panen setiap dua minggu.


Meski demikian, pengembangan sawit masih menghadapi sejumlah hambatan. Infrastruktur jalan menuju perkebunan belum sepenuhnya mendukung kelancaran distribusi hasil panen. Selain itu, sebagian besar petani merupakan pekebun kecil dengan kepemilikan lahan rata-rata hanya satu hingga dua hektare.


Persoalan penggunaan bibit juga masih menjadi tantangan. Keterbatasan modal membuat sebagian petani belum dapat menggunakan bibit unggul bersertifikat sehingga berpotensi memengaruhi hasil produksi.


Melalui pelatihan tersebut, para peserta dibekali pengetahuan mengenai teknik budidaya sawit yang baik, mulai dari pemilihan bibit unggul, pengelolaan lahan, pemeliharaan tanaman, kelembagaan petani hingga strategi pemasaran hasil perkebunan.


Perwakilan Narasumber IPB Trining, Prof. Dr. Hariyadi, MS, mengatakan peningkatan produktivitas sawit tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, tetapi juga penerapan teknik budidaya yang tepat.


Ia menyebut terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi keberhasilan perkebunan sawit, yakni kesesuaian lahan, penggunaan bibit unggul, serta pemeliharaan dan pemupukan yang dilakukan secara benar.


Selain aspek teknis, pelatihan juga menekankan pentingnya penerapan prinsip perkebunan berkelanjutan. Pekebun didorong menjaga kelestarian lingkungan, menerapkan teknik panen yang sesuai standar, menggunakan pupuk berkualitas, serta memperhatikan aspek keselamatan dan kesejahteraan tenaga kerja.


Hariyadi juga mengingatkan pentingnya sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai syarat untuk meningkatkan daya saing produk sawit Indonesia di pasar yang semakin menuntut praktik usaha berkelanjutan.


"ISPO akan menjadi salah satu kunci daya saing perkebunan sawit ke depan. Karena itu, pekebun perlu memahami standar budidaya berkelanjutan sejak dini," ujarnya.


Pemerintah Kabupaten Empat Lawang berharap peningkatan kapasitas pekebun melalui pelatihan ini mampu mendorong produktivitas sawit terus meningkat, sekaligus memperkuat posisi komoditas tersebut sebagai salah satu penopang perekonomian masyarakat di masa mendatang. (Ara)

×
Berita Terbaru Update