![]() |
PALEMBANG,
SP - Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman
(Perkim) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat kawasan kumuh di Bumi
Sriwijaya mencapai 5.777 hektare. Bahkan, setiap tahunnya kawasan kumuh terus bertambah.
“Data di tahun 2019 kawasan kumuh
ada sebanyak 5.777 hektare yang ada di 42 kawasan yang tersebar di 17
kabupaten/kota di Sumsel,” ujar Kepala Dinas Perkim Sumsel Basyaruddin Akhmad,
Rabu (11/12/2019).
Basyaruddin mengatakan, di tahun
2020 mendatang pihaknya menargetkan kawasan kumuh di Sumsel dapat berkurang 100
hektare pertahunnya. “Kota Palembang penyumbang terbesar kawasan kumuh
sedangkan Kabupaten Lahat dan Musi Banyuasin yang paling sedikit,” ungkapnya.
Untuk mengurangi kawasan kumuh, lanjut
Akhmad, pihaknya akan membangun rumah mellaui Program pembangunan baru Bantuan
Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) yang digagas oleh Kementerian Pekerjaan Umum
dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk membangun rumah berbasis komunitas.
Rumah berbasis komunitas itu
diperuntukkan untuk Ojek Online (Ojol), peternak lele, penyapu jalan, pembersih
sungai, dan buruh harian lepas. “Tahun depan program rumah komunitas itu akan
membangun sebanyak 1.200 rumah. Kita juga punya program Kotaku dan mendorong
pihak pengembang atau developer untuk sebanyak-banyaknya membangun rumah di
Sumsel,” jelasnya.
Menurutnya, indikator wilayah kumuh
bisa dilihat dari bagaimana kondisi jalan lingkungan, penyediaan air minum,
drainase lingkungan, pengelolaan limbah, pengelolaan sampah dan proteksi
kebakaran, ruang terbuka hijau/publik dan drainase lingkungan dan perumahan
tidak layak huni.
“Asal mula kawasan kumuh itu adanya
lahan kosong seperti di pinggiran sungai yang membuat masyarakat yang belum
mempunyai rumah itu membangunnya disana. Mereka juga mengajak orang lain untuk
membangun rumah disana,” pungkasnya. (lan)
