Memberatkan Masyarakat Miskin

Ilustrasi belajar online. (foto:net)
PALEMBANG, SP
– Proses pembelajaran online yang dilakukan selama pandemi Covid-19 membuat warga kurang mampu di kota Palembang menjerit.

Salah seorang warga 3-4 Ulu Marlina mengatakan, sejak empat bulan terakhir kedua anaknya yang sekolah di SD dan SMP, belajar secara online. Lantaran handphone hanya satu miliknya, mengharuskannya membeli lagi untuk anak keduanya.

"Harus beli handphone baru, karena setiap belajar menggunakan handphone, ada laporan tugas sekolah lewat video juga," katanya.

Selain itu, dalam satu pekan, ia harus membeli kuota internet yang harganya pun terbilang mahal. Marlina yang merupakan ibu rumah tangga ini, harus pandai menyisihkan uang belanja daribsuaminya untuk membeli kuota internet.

"Sehari itu bisa habis 1GB - 1,5 GB, kadang juga 2 GB kalau lagi banyak tugas. Kami beli di konter itu harganya Rp20 ribu, jadi sebulan kadang Rp400 ribu - Rp450 ribu untuk beli paket internet saja," katanya.

Ia mengatakan, jika memasang wifi harganya pun terbilang mahal. Ia memutuskan tetap menggunakan paket data internet biasa agar tidak sekaligus mengeluarkan uang banyak. Ia mengaku memang memberatkan, tetapi tetap diikutinya agar terhindar dari penularan Covid-19.

"Pasang wifi juga mahal, sebulan itu saya sudah tanya ada yang Rp300 ribu - Rp400 ribuan perbulan, tapi bayarnya sekaligus," katanya.

Sementara itu, Akbar Kurniawan yang merupakan salah satu siswa di SMAN 13 Palembang Kelas XII Jurusan IPS ini mengaku sedikit khawatir jika belajar jarak jauh dipermanenkan. 

"Takutnya nanti banyak pelajaran yang gak mengerti kalau belajar jarak jauh ini, dan bisa saja tidak kondusif juga," katanya.

Ia mengatakan, di kawasan tempat tinggalnya pun sering terjadi gangguan sinyal dari provider yang digunakannya. 

"Di rumah saya, Talang Jambe juga sering gangguan sinyal. Tidak dipungkiri juga saya masih sering main game dan belajar jarak jauh ini kadang tidak konsen. Kalau sekarang sih, masih ke sekolah tapi sesekali saja, hanya saat bagi raport, dan kembalikan buku pelajaran," ujarnya.

Kalau pun dipermanenkan dia berkeinginan agar jangan full online, karena berat di kuota juga. Pembelian kuota bisa menghabiskan 15GB satu minggunya atau sekitar Rp65 ribu.
 "Sekali dua kali ke sekolah tatap muka. Saya juga kasihan sama orangtua karena mesti beli kuota saya juga kalau mau pasang wifi di rumah, biayanya mahal," katanya.

Menurutnya, keuntungan tatap muka bisa langsung nanya ke guru, lewat online juga bisa tapi kadang kurang puas dan jelas kalau tidak dijelaskan secara langsung. 

"Kemudian bertemu teman juga, sosialisasi kalau lama di rumah juga tidak enak. Yang penting kan jaga jarak dan patuhi protokol kesehatan," katanya. 

Sementara itu,  Humas XL Axiata Aldi Desmet mengatakan, di Palembang awal pandemi Covid-19 terutama sejak pemberlakukan aktifitas bekerja dan belajar dari rumah, trafik layanan memang sempat mengalami peningkatan yang signifikan, namun sejak akhir Mei hingga saat ini trafik layanan cenderung mulai melandai sebagai dampak pandemic yang berkepanjangan dan mempengaruhi daya beli masyarakat. 

"Saat ini kami masih terus fokus untuk memberikan kenyamanan bagi masyaraat termasuk para pelajar dan mahasiswa yang melakukan aktiftas belajar daring dengan meningkatkan kualitas jaringan dan menyediakan berbagai pilihan paket layanan dengan harga yang lebih terjangkau," katanya. (Ara)

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.