Terkait Pernyataan Gubernur Diterapkannya KBM, Ini Tanggapan Bupati Askolani


BANYUASIN, SP -- Bupati Banyuasin H Askolani menanggapi pernyataan Gubernur Sumatera Selatan H Herman Deru, yang menyayangkan diterapkannya kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di Banyuasin. Padahal daerah itu berstatus zona oranye penyebaran Covid-19.

Bupati Askolani berdalih, kondisi geografis Banyuasin berbeda dengan daerah lain di Sumsel. Kabupaten ini wilayahnya terpisah-pisah dan satu kecamatan dengan yang lain jaraknya jauh.

“Ketika Banyuasin masih zona orange ke kuning, orang menganggap seluruh Banyuasin itu zonanya orange kuning. Padahal tidak demikian. Hanya beberapa titik saja dan semuanya sudah hijau, bahkan putih,” ujar dia.

Ia mengambil contoh Pangkalan Balai dan Karang Agus Ilir, bisa makan waktu perjalanan hingga tiga jam. Karang Agung Ilir, Tungkai Ilir Ilir, Pulau Rimau sudah masuk zona putih, bukan hijau lagi, berbeda dengan Palembang dan kabupaten kota lainnya.

“Daerah lain berupa satu hamparan. Begitu berstatus zona orange kuning, maka daerah tersebut sulit untuk menghindar. Banyuasin punya geografi luas, lebar, dan inilah alasan diambil kebijakan belajar tatap muka,” jelas dia.

Kebijakan belajar tatap muka di sekolah, menurutnya, diambil berdasarkan pertimbangan matang.Kebijakan ini kita ambil bukan sembarangan dan sudah dipikirkan cukup matang. Kita lakukan penelitian kepada anak-anak, mereka kangen sekolah, guru-guru dan teman-temannya. 

"Kita tanyakan dengan guru juga. Mereka ingin tatap muka hampir semua, walau ada sedikit persentasenya yang tidak setuju. Kita tanyakan wali murid juga hampir semua mayoritas setuju," tutur dia.

Ia mengaku sudah berkeliling Banyuasin baik secara langsung ataupun lewat sosial media dan telepon, untuk menanyakan tanggapan masyarakat terkat hal ini. Warga umumnya meminta agar anaknya masuk sekolah lagi.

“Ini menjadi pertimbangan kami dengan meminta pendapat juga dari Dandim, Kapolres, dan PGRI. Tidak ada masalah (belajar tatap muka di sekolah). Terpenting disiplin menjalankan protokol kesehatan. Dan penerapannya mengikuti aturan dari Kementerian Kesehatan,” ucap dia.

Disinggung soal pernyataan Gubernur Sumsel tersebut, Askolani mengatakan, itu hanya bentuk kekhawatiran seorang pemimpin. Pastinya apabila muncul persoalan dari belajar tatap muka ini, maka akan diterapkan kembali belajar secara daring.

"Itu wajar kalau mereka (Pemprov/Gubernur Sumsel) punya rasa kekhawatiran. Sebagai Bupati, kami bertanggung jawab atas ini. Kita juga lakukan evaluasi. Kebijakan ini saya pikir sudah komprehensif,” tandas dia. (Adm).

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.