Prof. Erwan Suryamegara : Lima Konsep Puyang dalam Berekspresi Perlu Dicontoh

PAGARALAM, SP - karya seni atau budaya saat ini tidak melupakan nilai nilai estetika atau keindahan yang tak nampak dan berbeda dengan Konsep Puyang.  Konsep pembuatan patung  megalit atau arca yang menjadi peninggalan budaya dan cukup banyak tersebar di bumi Besemah.  Konsep Puyang tidak mengenal konsep estetika. 

Ada lima konsep Puyang yang diterapkan oleh pendahulu atau Puyang. Pertama hasil karya nya berhubungan dengan dirinya atau manusia dengan dirinya (MD). Kedua berhubungan manusia dengan karya (MK) BerHubungan  antara manusia dengan alam (MA). Manusia dengan masyarakat (MM) dan terakhir atau kelima manusia dengan Tuhan (MT) atau dengan pencipta Nya.

Diuraikan Prof. Erwan Suryanegara  patung atau arca yang kita temukan pasti tidak estetika, karena tidak harmonis atau menampakan ke indahan. Sementara seni yang sering kita saksikan penuh dengan nilai keindahan, entah biri seni rupa, tari dan musik, imbuhnya.
Ditambahkan Prof Erwan, konsep Puyang tidak mengenal siapa penciptanya dan seringkali No Name Beda dengan lukisan, oh ini karya Picasso dan ini karya Basuki Abdullah. Konsep Puyang tidak mengenal itu, karena karyanya untuk masyarakat yang mengambarkan pribadi, jadi tidak perlu siapa yang bikinnya.

Masih kata prof Erwan, budaya atau karya konsep Puyang erat menggambarkan alam, namun tetap menjaga limgkungan alam tidak mengeksploitasi dan mengeksplorasi alam. Hal ini bisa dilihat bentuk rumah di Besemah, semisal kenapa harus tinggi dan sebagainya, karena waktu itu di kawasan iniasih banyak hewan buas yang berkeliaran. Yang tak kalah penting, konsep Puyang karya nya mendekatkan diri kepada pencipta Nya. 

"Bila konsep Puyang ini ditetapkan dan berlaku hingga sekarang maka akan amanlah dunia ini," tutupnya saat dialogue budaya  Senin (18/10) yang digagas oleh komunitas literasi kota Pagaralam yang dipusatkan di Villa MTQ belum lama ini.

Pada kesempatan ini turut hadir Mapilomfa Syarial Oesman dan tokoh budaya kota Pagaralam Madilany.

Kepada media ini, Madil menjelaskan, dengan gelaran dialogue budaya ini harapan kita akan memunculkan penulis penulis budaya yang bisa membuat harum bumi Besemah, tutupnya (Rep)

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.