Harga Minyak Goreng Naik Picu Inflasi Palembang


PALEMBANG, SP -
Meskipun kenaikan harga tidak memicu inflasi sampai 2% di Kota Palembang, tetapi kenaikan harga minyak goreng pertama kalinya jadi komoditas penyumbang andil inflasi wilayah Sumatera Selatan (Sumsel).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Zulkipli mengatakan, Kota Palembang pada Desember 2021 mengalami inflasi 0,42 %. Komoditas volatile food masih mendominasi penyebab inflasi.

"Minyak 0,14%, daging ayam ras 0,08%, telur ayam ras 0,07%, cabai rawit 0,03% dan beberapa volatile food lainnya, kenaikan harga dari komoditas inilah yang menyebabkan inflasi," katanya saat live streaming inflasi, Senin (3/1/2021).

Untuk pertama kalinya kenaikan harga minyak goreng picu inflasi. Hal ini disebabkan tahun 2021 ada larangan untuk memasarkan minyak goreng curah. Saat ini keputusan itu sudah diperbaiki dengan keputusan yang baru pada 10 Desember lalu. Tapi pada kondisinya harga sudah terlanjur naik karena suplai di pasaran otomatis berkurang.

"Pada Desember 2021 inilah memang terjadi kenaikan harga minyak goreng yang sangat signifikan," katanya.

Sementara itu, Kota Lubuk Linggau pada bulan November 2021 mengalami inflasi sebesar 0,29 %. Inflasi Tahun Kalender (Kumulatif) sampai bulan November 2021 sebesar 1,28 %. Inflasi Tahunan “Year on Year” (November 2021 terhadap November 2020) sebesar 1,67 persen.

Indonesia bulan November 2021, berdasarkan pemantauan harga selama bulan November 2021 pada 90 kota IHK, menunjukkan bahwa 84 kota IHK mengalami inflasi. Sedangkan 6 kota mengalami deflasi. 

Inflasi tertinggi terjadi di Kota Sintang sebesar 2,01%, terendah di Kota Bima dan Kota Pontianak, masing-masing sebesar 0,02 %. Deflasi tertinggi terjadi di Kota Kotamobagu sebesar 0,53 % terendah di Kota Tual sebesar 0,16 %. (Ara)

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.