PALEMBANG,SP – Pemerintah Kota Palembang segera mengoperasikan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) berbasis teknologi incinerator yang diproyeksikan mulai beroperasi pada akhir tahun 2026. Proyek ini digadang-gadang menjadi solusi strategis dalam mengatasi persoalan sampah sekaligus menghasilkan energi ramah lingkungan.
Wali Kota Palembang, Drs H Ratu Dewa MSi, mengatakan PSEL mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan energi listrik sebesar 20 megawatt. Sementara itu, timbulan sampah di Kota Palembang saat ini berkisar antara 1.100 hingga 1.200 ton per hari.
“Artinya, PSEL ini nantinya tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi benar-benar menjadi tulang punggung sistem penanganan sampah di Kota Palembang secara menyeluruh,” ujar Ratu Dewa.
Menurutnya, teknologi incinerator yang digunakan dalam proyek ini dirancang ramah lingkungan. Selain mampu mengurangi volume sampah hingga 80 persen, pengolahan ini juga secara signifikan menekan emisi gas metana yang memiliki potensi pemanasan global jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida. Dengan demikian, ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) pun dapat ditekan secara bertahap.
Namun demikian, Dewa mengakui bahwa keberhasilan operasional PSEL sangat bergantung pada kesiapan sistem distribusi sampah sebagai bahan baku utama. Pemerintah kota harus memastikan pasokan sampah dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) stabil, tepat waktu, dan sesuai spesifikasi pengelolaan.
“Dari sisi ketersediaan armada menjadi tantangan. Saat ini terdapat 160 armada yang melayani pengangkutan di 18 kecamatan dan 107 kelurahan. Padahal kebutuhan riil mencapai 225 unit agar distribusi benar-benar stabil dan efisien untuk PSEL nantinya,” jelasnya.
Untuk itu, Pemkot Palembang berencana melakukan peremajaan kendaraan tua sekaligus pengadaan armada baru guna mendukung operasional maksimal PSEL.
Lebih lanjut, Ratu Dewa menekankan pentingnya peran masyarakat dalam sistem pengelolaan sampah terpadu ini. Ia mengingatkan bahwa tidak seluruh sampah harus masuk ke PSEL, sehingga upaya pemilahan dari sumber melalui konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) tetap menjadi prioritas.
Sebagai bentuk penguatan partisipasi masyarakat, Pemkot Palembang menggulirkan program satu kelurahan satu bank sampah. Saat ini tercatat sudah ada 96 bank sampah yang aktif beroperasi.
“Jika satu bank sampah minimal dapat mengurangi 0,5 hingga 1 ton sampah per hari, maka total pengurangan bisa mencapai 50 sampai 100 ton atau sekitar 4 hingga 8 persen dari total timbulan sampah harian. Maka peran masyarakat dalam pengelolaan sampah ini sangat dibutuhkan,” tegasnya.
Dengan kolaborasi antara teknologi modern, kesiapan infrastruktur, dan partisipasi aktif masyarakat, Pemkot Palembang optimistis PSEL akan menjadi langkah besar menuju kota yang lebih bersih, berkelanjutan, dan mandiri energi. (Ara)
