PALEMBANG,SP – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan memperkirakan awal musim kemarau 2026 di wilayah Sumatera Selatan akan dimulai lebih cepat dibandingkan kondisi normal.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa sebagian wilayah di Sumsel diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Mei hingga Juni 2026. Bahkan, beberapa daerah diperkirakan mengalami pergeseran lebih cepat sekitar 20 hari dari biasanya.
Menurut dia, sekitar 29 persen wilayah Sumatera Selatan diperkirakan mulai mengalami musim kemarau pada akhir Mei. Sementara sekitar 64 persen wilayah lainnya akan memasuki periode kemarau pada awal hingga pertengahan Juni.
“Mayoritas wilayah Sumatera Selatan mulai memasuki musim kemarau pada awal sampai pertengahan Juni, sedangkan sebagian wilayah lainnya lebih dulu pada akhir Mei. Ini menunjukkan musim kemarau tahun ini datang lebih awal dibanding pola normal,” ujarnya.
Selain datang lebih cepat, sifat musim kemarau tahun ini juga didominasi kondisi bawah normal atau curah hujan yang lebih rendah dibandingkan rata-rata tahunan. Hanya sebagian kecil wilayah yang diperkirakan memiliki curah hujan normal, sedangkan sebagian besar wilayah berpotensi lebih kering.
Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko kekeringan, terutama di daerah yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan air hujan untuk pertanian maupun kebutuhan harian masyarakat.
BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau di Sumatera Selatan akan terjadi pada Juli di sebagian kecil wilayah, sementara mayoritas daerah diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus.
Meski demikian, karakteristik musim kemarau di tiap wilayah tidak sepenuhnya sama. Beberapa daerah diperkirakan mengalami puncak kemarau sesuai pola normal, sebagian maju sekitar satu bulan, dan sebagian lainnya justru mundur lebih dari satu bulan.
“Perbedaan ini menunjukkan karakteristik musim antarwilayah di Sumatera Selatan cukup beragam, sehingga masyarakat perlu memperhatikan perkembangan cuaca di daerah masing-masing,” katanya.
Untuk durasi, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung antara tujuh hingga 15 dasarian atau sekitar dua sampai lima bulan. Wilayah bagian tengah Sumatera Selatan diprediksi mengalami durasi kemarau paling panjang.
Di kawasan tersebut, musim kemarau dapat berlangsung 13 hingga 15 dasarian atau sekitar empat sampai lima bulan, yang tergolong cukup panjang untuk wilayah Sumatera.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, petani, serta masyarakat untuk mulai mengantisipasi dampak musim kemarau lebih awal, terutama terkait pengelolaan sumber air, pencegahan kebakaran lahan, dan penyesuaian pola tanam. (Ara)
.jpg)