PALEMBANG,SP – Nilai ekspor kopi Sumatera Selatan (Sumsel) melonjak tajam dari Rp1,5 miliar pada 2024 menjadi Rp12,1 miliar pada 2025. Tren positif tersebut mendorong kopi asal Sumsel, termasuk jenis Liberika, membidik pasar baru di Rusia.
Kepala Karantina Sumatera Selatan Sri Endah Ekandari mengatakan, Sumsel memiliki posisi penting dalam industri kopi nasional karena menyumbang sekitar 27 persen produksi kopi Indonesia.
Menurutnya, potensi tersebut harus diikuti dengan peningkatan kualitas dan pemenuhan persyaratan ekspor sejak komoditas berada di daerah asal.
“Komoditas ekspor harus dipastikan memenuhi persyaratan sejak dari daerah asal sehingga aman, sehat, bermutu, dan dapat diterima oleh negara tujuan,” ujar Sri.
Pertumbuhan ekspor kopi Sumsel terlihat dari jumlah pengirimannya. Pada 2024, tercatat hanya tiga kali pengiriman dengan nilai Rp1,5 miliar.
Setahun kemudian, frekuensinya meningkat menjadi 14 kali pengiriman dengan nilai mencapai Rp12,1 miliar.
Kopi Sumsel telah menembus sejumlah negara, di antaranya Malaysia, Australia, Arab Saudi, dan Singapura.
Sementara hingga Juli 2026, ekspor kopi Sumsel tercatat mencapai 8,7 ton dengan nilai Rp652 juta, dengan Australia menjadi salah satu tujuan utama.
Tren tersebut menjadi modal untuk memperluas pasar, termasuk mengincar Rusia yang memiliki populasi lebih dari 144 juta jiwa.
Atase Perdagangan Indonesia di Moskow, Ardianto Mahdi Wibowo, mengatakan Rusia merupakan salah satu pasar yang potensial bagi kopi Indonesia.
Produk kopi Indonesia disebut telah memiliki pijakan di pasar Rusia sehingga peluang untuk memperluas pasar masih terbuka.
Namun, eksportir tidak cukup hanya mengandalkan cita rasa dan kualitas kopi. Produk yang akan dikirim harus memenuhi berbagai ketentuan negara tujuan.
Persyaratan tersebut antara lain mencakup keamanan pangan, sertifikasi, pelabelan, hingga ketertelusuran produk.
Barantin berupaya membuka jalan bagi pelaku UMKM untuk masuk ke pasar global melalui pendampingan dan sertifikasi.
Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Karantina Wisnu Wasisa Putra mengatakan, pelaku usaha dapat memanfaatkan Klinik Ekspor yang tersedia di kantor karantina di berbagai daerah.
“Klinik Ekspor ini menjadi ruang konsultasi bagi pelaku usaha untuk memperoleh informasi dan pendampingan langsung terkait persyaratan serta proses sertifikasi ekspor komoditas,” ujar Wisnu.
Ia menegaskan, ekspor membutuhkan kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah daerah, Barantin, dan perwakilan perdagangan Indonesia di negara tujuan.
Pelaku UMKM sekaligus eksportir kopi, M. Syahrafiuddin, optimistis Liberika Sumsel mampu bersaing di pasar internasional.
Selain memiliki karakteristik yang khas, kopi Liberika juga dapat dibudidayakan di lahan gambut maupun dataran rendah.
Namun, potensi tersebut harus dibarengi konsistensi kualitas. Menurutnya, kualitas yang terjaga menjadi kunci untuk membangun kepercayaan pembeli dalam jangka panjang.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sumsel Mega Nugraha menambahkan, penguatan ekspor harus dimulai dari hulu.
Peningkatan standar mutu dan mitigasi risiko di tingkat petani dinilai penting agar komoditas yang dihasilkan benar-benar siap memenuhi tuntutan pasar internasional.
Selain Klinik Ekspor, Karantina Sumsel bersama Pemprov Sumsel mengembangkan inovasi Go-Export untuk memperkuat ketertelusuran komoditas.
Sistem tersebut mencakup identitas pelaku usaha, asal bahan baku, hingga kelengkapan dokumen yang dibutuhkan dalam proses sertifikasi ekspor.
Dengan penguatan dari tingkat petani hingga sertifikasi, kopi Liberika Sumsel diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan pasar yang sudah ada, tetapi juga membuka jalur baru menuju Rusia.
Dari lonjakan nilai ekspor Rp1,5 miliar menjadi Rp12,1 miliar, kopi Sumsel kini tengah mengejar target berikutnya, memperluas pasar hingga Rusia. (Ara)