PALEMBANG,SP – Pemerintah Kota Palembang resmi memulai pengiriman sampah perdana ke fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Langkah ini menjadi tonggak baru dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi sekaligus upaya mengubah timbulan sampah menjadi sumber energi.
Wali Kota Palembang, Drs. H. Ratu Dewa, M.Si., meninjau langsung proses masuknya sampah dari sejumlah wilayah ke fasilitas PSEL. Ia menyebut, pengoperasian awal sistem tersebut menjadi langkah penting dalam menangani persoalan sampah secara modern dan berkelanjutan.
"Hari ini adalah hari perdana masuknya sampah dari beberapa tempat ke PSEL yang menghasilkan energi listrik. Dari Dinas Lingkungan Hidup diperkirakan sampah yang masuk mencapai 960 ton per hari," ujar Ratu Dewa.
Menurutnya, keberadaan PSEL Palembang tidak hanya menjadi solusi terhadap persoalan sampah perkotaan, tetapi juga memiliki nilai strategis secara nasional.
"Ini merupakan proyek strategis nasional dan Palembang menjadi salah satu percontohan. Jadi kita berharap pelaksanaannya berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat," katanya.
Ratu Dewa menjelaskan, sampah yang masuk ke fasilitas PSEL akan melalui sejumlah tahapan pengolahan sebelum memasuki proses pembakaran. Material sampah terlebih dahulu difermentasi selama sekitar lima hingga tujuh hari sebagai bagian dari persiapan proses pengolahan hingga menghasilkan energi listrik.
PSEL Palembang juga dijadwalkan memasuki tahapan penting pada September 2026. Rencananya, pada 10 September mendatang akan digelar agenda yang dihadiri sejumlah pejabat pemerintah pusat, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pangan serta Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Sementara peresmian fasilitas PSEL ditargetkan berlangsung pada Desember 2026 dan direncanakan diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang, Akhmad Mustain, mengatakan pengiriman sampah ke PSEL dilakukan dari berbagai wilayah di Kota Palembang. Pengangkutan tersebut melayani sampah yang berasal dari lebih dari 400 Tempat Penampungan Sementara (TPS).
Dari total produksi sampah Kota Palembang yang mencapai sekitar 1.260 ton per hari, sebanyak 960 hingga 1.000 ton per hari dialokasikan untuk masuk ke bunker PSEL.
"Pengangkutan mencakup seluruh wilayah. Kita terus mengatur ritase armada agar distribusi sampah menuju PSEL dapat berjalan optimal," jelas Mustain.
Untuk mendukung distribusi sampah, Pemkot Palembang saat ini mengoperasikan 141 armada pengangkut dari total 160 armada yang tersedia. Pemerintah kota juga berencana menambah armada baru melalui Anggaran Perubahan guna memperkuat sistem pengangkutan.
Beroperasinya PSEL diharapkan mampu mengubah paradigma pengelolaan sampah di Kota Palembang. Sampah yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan dan kebutuhan lahan pembuangan kini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan energi.
Meski demikian, Pemkot Palembang menegaskan keberadaan PSEL tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan sampah. Partisipasi masyarakat tetap dibutuhkan, terutama dalam mengurangi produksi sampah dan melakukan pemilahan sejak dari rumah tangga.
Sampah yang masih memiliki nilai guna diharapkan dapat dimanfaatkan kembali, sedangkan sampah yang tidak dapat digunakan dapat masuk ke sistem pengolahan yang tersedia.
Dengan dimulainya pengiriman sampah perdana menuju PSEL, Kota Palembang memasuki babak baru dalam pengelolaan lingkungan perkotaan. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan tidak hanya menciptakan kota yang lebih bersih, tetapi juga mampu mengubah sampah menjadi sumber daya dan energi bagi masyarakat. (Ara)
