PSBB Palembang dan Prabumulih Setelah Lebaran, SMB IV: “Secara Medis Sangat Beresiko Sekali”

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo RM Fauwaz Diraja SH MKn 
PALEMBANG, SP - Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di kota Palembang dan Prabumulih kemungkinan baru akan diberlakukan pada H+2 Idul Fitri 1441 H. Hal ini diungkapkan Gubernur Sumsel H Herman Deru dalam konferensi pers PSBB di ruang Bina Praja Pemprov Sumsel, Rabu (13/5).
Gubernur mengatakan, Sumsel adalah provinsi pertama di Sumbagsel yang menerapkan PSBB. Oleh sebab itu banyak hal yang harus dibahas dan dipersiapkan, disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing.
Gubernur menambahkan, pada intinya kota Palembang dan Prabumulih sudah siap melaksanakan PSBB. Namun tentu semua itu butuh proses untuk membuat produk yuridisnya yaitu aturan-aturan yang dibuat dalam Perwali.
Namun Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo RM Fauwaz Diraja SH MKn  menilai penerapan PSBB setelah lebaran secara medis menurutnya sangat beresiko sekali , apalagi di lebaran ada tradisi sanjo, bahkan mungkin ada beberapa pihak melakukan shalat Ied berjamaah.
“Ini bukan hanya soal rasa, takutnya kalau bicara rasa itu  kalau keburu menyebar, apalagi ketika perputaran di hari raya  orang muter-muter kemana, nah itu  yang di khawatirkan, yang jadi ulil amrinya  khan mereka  kita ikuti kata mereka, tapi kalau bermanfaat pahala buat mereka, kalau mudorat dosa buat mereka, enggak bisa ngomong lagi kita  ,” katanya
Tadinya pihaknya berharap penerapan PSBB ini bisa secepatnya , karena sisi ekonomi sekarang sudah lumpuh 50 persen tinggal sembako yang belum.
“Dengan wabah pandemi ini harusnya kita hindari , seperti shalat Jumat yang kewajibannya menjadi gugur karena pandemi ini,” katanya.
Dia berharap pemerintah daerah dapat berpikir bijak, kalaupun penerapan PSBB setelah lebaran menurutnya harus ada langkah yang harus diambil pemerintah  supaya lebih memaksimalkan ketika PSBB dilaksanakan nanti.
“Oke tindakan preventifnya apa,” katanya.
Dia juga melihat pasar di Palembang yang masih ramai dimana harusnya lebih di tata lagi .
“Yang penting social distancingnya ada jangan sampai umplek-umplekan seperti  saya kemarin beberapa kali ke pasar masih ramai juga , saya lihat sendiri, jadi resikonya sangat besar sekali,” katanya. (dor)

Theme images by merrymoonmary. Powered by Blogger.